Surabaya, – Indonesia tengah menorehkan tinta emas dalam sejarah panjangnya. Gagasan besar memindahkan ibu kota yang telah melintasi empat era kepemimpinan presiden, kini bukan lagi sekadar wacana. Ibu Kota Nusantara atau IKN, diproyeksikan tidak hanya menjadi pusat pemerintahan baru, tetapi juga diramalkan akan menjadi mercusuar bagi peradaban dunia di masa depan.
Sejarah mencatat, ambisi memindahkan pusat gravitasi Indonesia dari pulau Jawa sudah bersemi sejak tahun 1957. Presiden pertama RI, Soekarno, mengincar Palangkaraya sebagai simbol kemandirian bangsa. Namun, badai politik memaksa mimpi itu tertunda.
Memasuki era 90-an, Presiden Soeharto sempat melirik Jonggol melalui Keppres Nomor 1 Tahun 1997, yang kemudian kandas akibat hantaman krisis moneter. Di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, urgensi pemindahan kembali mencuat akibat beban Jakarta yang kian berat.
Barulah di tangan Presiden Joko Widodo, keberanian politik itu mewujud. Melalui Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2022, Nusantara di Penajam Paser Utara resmi ditetapkan sebagai episentrum baru pembangunan yang inklusif atau Indonesia-sentris.
Namun, di balik pembangunan fisik yang masif, tersimpan makna spiritual yang mendalam. Pengamatan spiritual dari Master Jeffry MD menyebutkan bahwa IKN memiliki takdir sebagai ‘Mercusuar Dunia’. Kekayaan alam yang luar biasa dan kesuburan tanah Nusantara menjadi fondasi kekuatan yang tidak dimiliki bangsa lain.
Lebih jauh, posisi geografis IKN yang berada di dataran tinggi dinilai memiliki nilai strategis dalam menghadapi tantangan alam masa depan. Di saat wilayah lain berisiko menghadapi kenaikan permukaan laut, IKN diprediksi akan tetap berdiri kokoh sebagai bukti peradaban Nusantara yang abadi, layaknya kemegahan Borobudur yang bertahan melintasi zaman.
”Pembangunan IKN bukan sekadar memindahkan gedung perkantoran, melainkan upaya menjemput takdir Indonesia sebagai pemimpin dunia. Meski segala ketetapan waktu akhir berada di tangan Sang Pencipta, optimisme bahwa Nusantara akan menjadi cahaya bagi bangsa-bangsa lain terus menguat seiring berjalannya proses pembangunan di tanah Kalimantan ini.”( Jefri )